• Senin, 5 Desember 2022

Teks Khutbah Jum'at Hari Guru Nasional 2022: Memposisikan Akhlak Sebagai Ruh Pendidikan

- Kamis, 24 November 2022 | 14:03 WIB
Teks khutbah Jumat dengan tema hakikat taubat yang sesungguhnya. (PIXABAY/Andromachos Dimitrokallis)
Teks khutbah Jumat dengan tema hakikat taubat yang sesungguhnya. (PIXABAY/Andromachos Dimitrokallis)

JAKARTA, KLIKAKTUAL.COM - Teks khutbah jumat edisi hari guru nasional 2022 tersedia dalam artikel berikut.

Hari Guru Nasional 2022 diperingati setiap tanggal 25 November setiap tahunnya.

Berikut teks khutbah bagi Anda yang membutuhkan referensi teks khutbah besok yang mengangkat tema tentang hari guru nasional 2022.

Baca Juga: Hari Guru Nasional Sebentar Lagi, Berikut 20 Ucapan untuk Guru yang Penuh Makna

Berikut teks khutbah jumat Hari Guru Nasional 2022, Memposisikan Akhlak Sebagai Ruh Pendidikan yang dikutip dari Nahdlatul Ulama Online.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin sidang Jum’ah  yang dirahmati Allah, Rais Akbar Nahdlatul Ulama: Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, dalam mukadimah salah satu kitabnya yang berjudul “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” (kitab ini ditulis oleh beliau sebelum didirikannya NU) beliau mengisahkan, suatu hari Imam Syafi'i pernah ditanya mengenai pentingnya adab atau etika dalam pengajaran dan pendidikan:

كيف شهوتُك للأدب ؟

“Bagaimanakah hasrat dan perhatianmu terhadap pengajaran adab?”.

Beliau menjawab:

 أسمعُ بالحرف منه فتوَدُّ أعضاءي أنّ لها أسماعا تتنعّم به “

Setiap kali telingaku mendengar materi pengajaran adab meski hanya satu huruf, maka seluruh organ tubuhku akan ikut menyimaknya, seolah-olah seluruh anggota tubuhku memiliki pendengaran. Demikianlah perumpamaan hasrat dan perhatianku terhadap pengajaran adab”.

Baca Juga: 8 Pantun Hari Guru Nasional 2022 Inspiratif dan Penuh Makna

Beliau kemudian ditanya lagi, “Lalu, bagaimanakah upayamu dalam mencari pengetahuan tentang adab itu?”. Beliau menjawab:

طلب المرأة المضلّة ولَدَها وليس لها غيرُها

“Aku akan dengan sekuat tenaga mencarinya sebagaimana upaya pencarian seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya yang dimiliki”. (Hasyim Asy'ari, Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, 1415 H: 10-11).

Jamaah Jumah rahimakumullah, Kisah di atas merupakan sepenggal pelajaran yang sangat menarik dan berharga dari Imam Syafi'I bagi kita semua, yang menjelaskan betapa penting dan berharganya pengajaran adab atau etika.

Sehingga orang yang tidak memiliki etika diumpamakan seperti seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya yang dimiliki.

Baca Juga: 17 Link Twibbon Hari Guru Nasional 2022: Meriahkan di Media Sosial Anda

Adab, akhlak atau etika, merupakan unsur sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Ia adalah tolak ukur yang menentukan mental, kepribadian, dan perilaku seseorang, sekaligus sebagai mumayyizat atau ciri khas yang membedakan antara manusia sebagai makhluk mulia dengan makhluk Allah lainnya.

Apabila ciri khas itu hilang maka akan hilang pula kemuliaan martabat manusia, bahkan posisinya bisa jauh lebih rendah dibanding hewan sekali pun.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam al-Qur’an:

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم. ثمّ رددناه أسفل سافلين. إلاّ الذين آمنوا وعملوا الصالحات ....

"Sungguh telah Aku ciptakan manusia dalam bentuk (dan kelengkapan potensi) yang sebaik-baiknya. Namun kemudian Aku kembalikan ia pada posisi yang serendah-rendahnya. Kecuali mereka yang benar-benar beriman dan berperilaku sholeh....” 

Dan agar seseorang benar-benar dapat menjadi insan yang beriman dan berperilaku sholeh, caranya tiada lain harus melalui satu proses yang dinamakan: pendidikan.

Halaman:

Editor: Rema Rismawati

Tags

Terkini

X